BEDA SUBHANALLAH DAN MASYAALLAH

Kata Subhanallah yang berarti "Mahasuci Allah" dan kata Masyaallah yang berarti "Allah telah berkehendak akan hal itu", dua kata yang sudah tidak asing kita dengar sering diucapkan dalam keseharian bila orang sedang merasa takjub melihat sesuatu yang luarbiasa, melihat istri yang cantik, kaget karena melihat sesuatu yang mengerikan, atau mendengar hal-hal yang kurang menyenangkan.
Dua kata ini tentu memiliki nilai tersendiri bila dibandingkan kalau kita hanya mengucapkan kata-kata biasa seperti "amboi... indahnya" bila melihat pemandangan yang indah atau umpatan-umpatan yang tak pantas bila melihat hal yang kurang menyenangkan.
Sumber : panggilandarisurau.com
Kebanyakan masyarakat indonesia mengucapkan "Subhanallah" ketika melihat atau mengalami hal-hal yang menakjubkan dan menyenangkan dan akan mengucapkan "Masyaallah" saat mengalami kejadian yang kurang menyenangkan atau keburukan
Pernah ada orang indonesia yang bercengkrama dengan muslim asli Arab, karena takjub dan berniat memuji orang Arab tersebut dia pun berucap "Subhanallah" , tapi apa yang dikatakan muslim arab tersebut?  (kurang lebih dalam bahasa indonesianya)
“Astaghfirullahal 'adzhim, maaf ustad kalau ada yang bathil dalam diri & ucapan saya tolong segera diluruskan!"



BACA JUGA : SUBHANALLAH QARI MENINGGAL  KETIKA MEMBACA AL-QUR'AN


Nah ternyata muslim Arab tersebut menganggapnya berbeda dari yang kita harapkan. Lalu..bagaimana seharusnya letak pengucapan yang benar? Subhanallah diucapkan saat mendengar atau melihat hal buruk/jelek, ucapkan "Subhanallah" sebagai penegasan bahwa Allah Mahasuci dari keburukan tersebut.
Dalam Al-Quran, ungkapan Subhanallah digunakan dalam menyucikan Allah dari hal yang tak pantas (hal buruk), misalnya  “Mahasuci Allah dari mempunyai anak, bahkan apa yang ada di langit dan bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya”, juga digunakan untuk mengungkapkan keberlepasan diri dari hal menjijikkan semacam syirik (QS. Al Baqarah(2) : 116).
Masyaallah bila seseorang melihat hal yang baik dan indah. Ekspresi penghargaan sekaligus pengingat bahwa semua itu bisa terjadi hanya karena kehendak-Nya.
“Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu “Maasya Allah laa quwwata illa billah” (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan?” (QS. Al-Kahfi: 39).
Dengan mengetahui perbedaan penggunaan dua kata ini tentu akan memberikan makna yang lebih baik dalam pergaulan dengan sesama muslim maupun dalam usaha mendapatkan rahmat karena selalu mengingat Allah SWT dalam berbagai kesempatan dan situasi. Wallahu’alam
Memang hal ini ngga diajarkan di sekolah (pengalaman ane), tapi ini ane dapatkan di pengajian. Ternyata banyak yang baru tahu kalau selama ini keliru. Jadi jangan kebalik lagi ya gan, antara subhanallah dan masyaallah
Semoga Bermanfaat J

Share:

SUBHANALLAH !! QARI MENINGGAL DUNIA KETIKA MEMBACA AYAT SUCI AL-QUR'AN

Alm Ust Ja'far yg wafat saat membaca al Qur'an, di acaranya Bu Mensos. Beliau baru baca ayat 1 dan 2 QS. Al Mulk. Silahkan buka ayat tersebut. Ayat tersebut berbicara tentang kehidupan dan kematian, sebagai ujian.

Pada saat mulai membaca ayat ke 3, beliau kembali kepada Allah. Setiap muslim pasti menginginkan husnul khatimah. Di antara tanda husnul khatimah adalah meninggal saat beribadah atau beramal shalih.

Tak ada yang aneh saat Ustadz Jakfar membaca surat ke-67 yang juga merupakan surat pertama dalam juz 29 itu. Hadirin bisa mendengarkan suara merdunya. Namun, saat masuk ayat ketiga, suara qari’ itu terdengar semakin mengecil.
Mikrofon di tangannya terlihat menjauh dari bibir, lalu jatuh. Kepalanya menunduk beberapa detik kemudian tubuhnya miring dan roboh ke kanan.  Orang-orang yang melihat pun kaget. Beberapa panitia naik ke atas panggung. Menteri Khofifah juga. Lalu ia minta petugas medis memeriksa kondisi Ustadz Jakfar. "Dia lalu dibawa petugas ke RSI Jemursari," kata Rofik Kurdi Ismail, salah seorang panitia acara, seperti dikutip Viva. Sekitar satu jam kemudian, panitia acara mengumumkan bahwa Jakfar dinyatakan meninggal dunia oleh dokter rumah sakit. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Apa yang dialami oleh Ustadz Jakfar Abdurrahman hari ini, insya Allah husnul khatimah. Qari’ ini menghembuskan nafas terakhir ketika membaca ayat suci Al Qur’an di kediaman Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, di Jemursari Surabaya, Senin (24/4/2017). Sekira jam 9 pagi, digelar Peringatan Haul Almarhumin keluarga besar Khofifah Indar Parawansa. Setelah itu, acara disambung dengan Hari Ulang Tahun ke-71 Muslimat Nahdlatul Ulama dan Haul Syekh Abdul Qadir Jailani.

BACA JUGA : WARGA NIGERIA TERKEJUT DENGAN PEMUDA TURKI ISLAM

Dari peristiwa diatas maka timbul pertanyaan dari Ustadz Yusuf Mansur dalam Instagramnya, beliau menanyakan “Wafat yg seperti apa yg kita inginkan? Dan seperti apa wafatnya kita kelak? Semoga semua husnul khatimah.”

Sungguh kita semua iri dengan alm Ust Ja'far. Segala doa untuk beliau dan keluarga yg ditinggalkannya. Juga panitia acara tersebut. Semoga dpt kebaikan dari kematian yg husnul khatimah .

Percuma juga kuat, hebat, kaya, top, cantik, ganteng, keren, pinter, bekuasa... Tapi wafatnya, jelek. Wafatnya suu-ul khaatimah. Na'uudzu billaahi mindzaalik.

Silahkan baca Istighfar, dan berdoa untuk ampunan bagi kita semua.

Semoga kebaikan-kebaikan yang mengalir dari pelajaran ini, ngalir ke Ust Ja'far juga dan keluarganya. Kata Ustadz Yusuf Mansur dalam instagramnya.

Semoga kita merasa IRI dengan kejadian ini, serta bisa mengambil hikmah dari peristiwa ini. Aamiin Ya Rabb

 Silahkan Cek Videonya pada link ini: LINK 1 ||  LINK 2

Sumber : IG Shella 12ahma & Ustadz Yusuf Mansur


Share:

ITAK POUL-POUL KUE KHAS MANDAILING YANG HAMPIR HILANG

Itak Poul-poul merupakan penganan khas dari Mandailing Natal, Sumatera Utara. Itak Poul-poul memiliki arti sebuah Tepung yang di Kepal-Kepal, Itak artinya Tepung dan Poul-Poul artinya Kepal-Kepal. Jadi Itak Poul-Poul adalah Makanan yang terbuat dari tepung beras dan campuran lainnya yang kemudian cara pembuatannya di poul-poul (kepal-kepal) sehingga menimbulkan bekas jari tangan di kue tersebut. Cara mengepalkan campuran adonan tepungnya sama halnya ketika memeras parutan kelapa menggunakan tangan.
Penganan Itak poul-poul ini termasuk penganan sejenis kue yang terdiri dari campuran tepung beras, Kelapa Parut, Gula Merah, dan Garam. Adapun cara pembuatannya adalah sebagai berikut :
Bahan-Bahan :
1.    100 gram tepung beras
2.    200 gram tepung parut
3.    100 gram gula merah
4.    Garam secukupnya

Langkah Pembuatannya :
1.    Siapkan dan Campurkan bahan-bahan diatas dalam wadah
2.    Aduk semua bahan sampai menyatu
3.    Setelah adonan rata, Ambil adonan sesuai selera dan poul-poul (kepal-kepal) hingga cukup padat.
4.    Siapkan dandang kukusan. Kukus hingga matang kurang lebih selama 20 menit . And it’s done!
Cara pembuatannya sebenarnya tergolong cukup gampang dan tidak terlalu memakan biaya & waktu yang  banyak serta memiliki cita rasa yang lezat. Akan tetapi entah apa yang terjadi Kue ini sudah sangat jarang sekali ditemukan di wilayah Mandailing Natal. Dahulu ketika penulis masih SD, makanan ini sering sekali dijumpai baik dijual di warung-warung maupun diolah untuk santapan di rumah.
Berdasarkan info yang penulis kuti dari website www.medanbisnisdaily.com Makanan ini hanya bisa dijumpai di beberapa tempat. Misalnya di Kotanopan dan Panyabungan. Untuk Kotanopan, makanan ini dijual di warung Simpang Tiga Raya, itupun hanya hari Jum"at dan Sabtu. Selebihnya untuk mencari Itak Poul-Poul ini sangat susah. Kalaupun ada dibuat hanya sebatas untuk dikonsumsi keluarga, bukan untuk di jual.
Hal ini diakui Siti Aminah Sari SE, Selasa (13/8) salah seorang peminat makanan itak poul-poul. "Belakangan ini sangat susah mencari makanan ini, setahu saya untuk daerah Kotanopan hanya ada di warung Simpang Tiga Raya, itupun hari Jum,at dan Sabtu. Kalau kita ingin jumlah yang lebih banyak, kita harus memesan terlebih dahulu. Sebagai makanan khas Mandailing, jenis makanan ini seharusnya dilestarikan," katanya.
Pengelola warung Simpang Tiga Raya Kotanopan, Hj Masna mengaku cara pembuatan itak poul-poul ini cukup mudah. "Cara pembuatannya cukup mudah, tidak memakan waktu lama. Untuk melestarikan makanan khas budaya Mandailing ini kita sengaja menjualnya pada hari Jum"at dan Sabtu. Peminatnya cukup banyak, selain masyarakat di sini, bagi mereka yang kebetulan singgah di warung ini selalu membeli itak poul-poul ini. Bahkan dari Medan, Padangsidimpuan, Natal, atau warga Mandailing yang ada perantauan sering memesan ke mari," ujarnya.
Pengakuan lainnya datang dari salah seorang warga Kotanopan, Duski Lubis. Dia mengatakan makanan itak poul-poul belakangan ini memang mulai hilang, sangat jarang orang membuatnya sekarang, apalagi menjualnya. "Saya masih teringat dulu sekitar tahun 70-an hingga 80-an, asal datang tamu ke rumah, makanan yang disediakan adalah itak poul-poul. Bukan itu saja, kalau dulu makanan ini juga digunakan saat pesta perkawinan. Oleh-oleh yang dibawa keluarga penganten laki-laki biasanya itak poul-poul dan kalau daerah lain masih bias dijumpai itu ketika anak lahir dalam keluarga biasanya dibuatlah itak pooul - poul," jelasnya.
Nah, apakah yang terjadi, salah orang tua kah yang tidak memperkenalkan makanan ini kepada anak-anaknya, atau salah anaknya yang terlalu menyukai makanan yang serba instan?
Penulis berharap makanan ini bisa tetap eksis dikalangan masyarakat, karena penulis yakin cita rasa dari kue ini tidak akan kalah bersaing dengan Wafer-wafer yang ada diwarung-warung. Selain rasanya lezat, makanan ini sehat dan mengenyangkan dan cocok untuk dijadikan sarapan pengganti nasi.
Kan asyik tuh, Nge-teh atau Ngopi ditemani Itak Poul-poul hangat. Plus suasana pagi perkampungan yang sejuk. Widiiiiiiihhhh mantap J
Penulis sengaja mencantumkan resep membuat itak poul-poulnya supaya pembaca yang belum bisa membuatnya. Bisa mencobanya dirumah.
Selamat Mencoba, Lestarikan Kue Khas Mandailing Natal

#HasanTarmiziNasution




Share:

KISAH ULAR DAN GERGAJI

Seekor ular memasuki gudang tempat kerja seorang tukang kayu di malam hari. Kebiasaan si tukang kayu adalah membiarkan sebagian peralatan kerjanya berserakan & tidak merapihkannya.
Nah ketika ular itu masuk kesana, secara kebetulan ia merayap di atas gergaji. Tajamnya mata gergaji menyebabkan perut ular terluka. Ular beranggapan gergaji itu menyerangnya. Ia pun membalas dengan mematuk gergaji itu berkali-kali.
Serangan yang bertubi-tubi menyebabkan luka parah di bagian mulutnya. Marah & putus asa, ular berusaha mengerahkan kemampuan terakhirnya utk mengalahkan musuhnya. Ia pun lalu membelit dengan kuat gergaji itu.
Belitan yang menyebabkan tubuhnya terluka amat parah, akhirnya ia pun mati binasa. Di pagi hari si tukang kayu menemukan bangkai ular tsb di sebelah gergaji kesayangannya.
Sahabat... 
Kadangkala di saat marah, kita ingin melukai orang lain. Setelah semua berlalu, kita baru menyadari bahwa yang terluka lebih parah sebenarnya adalah diri kita sendiri.
Banyaknya perkataan yang terucap & tindakan yang dilakukan saat amarah menguasai, sebanyak itu pula kita melukai diri kita sendiri.
Tidak ada musuh yang tidak dapat di taklukkan oleh cinta kasih.
Tidak ada permusuhan yang tidak dapat dimaafkan oleh ketulusan.
Tidak ada kesulitan yang tidak dapat dipecahkan oleh ketekunan.
Tidak ada batu keras yang tidak dapat di pecahkan oleh kesabaran.
Semua itu haruslah berasal dari diri kita.
Dendam, benci, curiga/pikiran negative apapun itu, sebenarnya bagaikan ular yang membelit gergaji, yg bisa terus menerus muncul dalam pikiran kita, menusuk & membakar batin kita sendiri.
Latihlah setiap saat utk memaafkan, mampu dengan cepat melepaskan & membuang sampah pengotor batin dan pikiran kita.
Semoga bermanfaat...




Share:

HAK ALLAH DI PAGI HARI

Rasulullah Rasulullah shalallahu ‘alaihiwasallam bersabda :
“ Barangsiapa yang bangun di pagi hari namun hanya DUNIA yang dipikirkannya, sehingga seolah-olah dia tidak melihat hak Allah dalam dirinya maka Allah akan menanamkan 4 (empat) penyakit dalam dirinya:
1.    Kebingungan yang tiada putusnya;
2.    Kesibukan yang tidak ada ujungnya;
3.    Kebutuhan yang tidak terpenuhi; dan
4.    Keinginan yang tidak tercapai”.( HR. Ath Thabrani).
Maka mulailah pagi harimu dengan menjaga hak Allah terlebih dahulu, dan bersyukhur karena Dia masih memberi umur dan kesempatan untuk hidup, dengan demikian Allah akan menjaga “DUNIA” mu.
Dimulai dengan membaca doa bangun tidur:
"اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
Artinya : 
"Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada Allah akan dibangkitkan."
Berikutnya adalah shalat sunnah sebelum subuh.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Dua rakaat shalat sunnah subuh lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.”(HR. Muslim725).
Apa yang perlu dikhawatirkan jika anda telah mendapatkan yang lebih baik dari dunia dan seisinya?
Kemudian shalat subuh berjama'ah di masjid bagi laki-laki.
“Barang siapa yang shalat subuh maka dia berada dlm jaminan Allah…” (HR. Muslim no. 163).
Apa yang anda takutkan jika Allah yang maha memiliki alam semesta ini telah menjamin hari mu?
Kemudian diikuti dzikir di pagi hari.
“Maukah kamu aku tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci di sisi Raja-mu (Allah), dan paling mengangkat derajatmu; lebih baik bagimu dari infak emas atau perak?” Beliau bersabda: “Dzikir kepada Allah Yang Maha tinggi.” (HR. At-Tirmidzi no. 3377)
Dan apa yang perlu diresahkan jika dengan dzikir pagimu, Allah akan mengangkat derajatmu?
Dengan berdzikir maka pagi mu akan menjadi lebih indah dan berseri.
“…Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi TENANG.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Lalu tutup pagimu dengan sholat dhuha, bersedekah untuk 360 persendianmu, maka Allah akan mencukupimu hingga sore hari :
“Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, jangan-lah engkau tinggalkan 4 raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Ahmad (5/286),
“Manusia memiliki 360 persendian. Setiap persendian itu memiliki kewajiban untuk bersedekah.” Para sahabat pun mengatakan, “Lalu siapa yang mampu bersedekah dengan seluruh persendiannya, wahai Rasulullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lantas mengatakan, “Menanam bekas ludah di masjid atau menyingkirkan gangguan dari jalanan. Jika engkau tidak mampu melakukan seperti itu, maka cukup lakukan shalat Dhuha dua raka’at.” (HR. Ahmad, 5: 354
Betapa tenang dan damainya pagi hari jika kita mulai dengan memelihara hak Allah.
Semoga kita dijadikan hamba Allah yang senantiasa bersyukur dan senantiasa mendahulukan hak-hak Allah. Amin
OFA



Share:

ES BUAH (NASEHAT UNTUK PARA JOMBLO) - OLEH USTADZ SALIM A FILLAH

Di zaman ketika godaan begitu mudah menjumpai dan dijumpai, betapa pentingnya merenungi hadits ini: "Jika salah seorang dari kalian terpikat oleh seorang wanita dan timbul gejolak hasrat di dalam hatinya, maka segeralah dia pulang pada istrinya dan tumpahkanlah kehendak syahwat itu pada istrinya. Karena yang demikian itu dapat menepis apa yang mengganggu jiwanya." (HR. Muslim No 2492)
Dalam riwayat lain ada tersurat, "Karena pada istri kalian terdapat segala yang ada pada wanita yang dijadikan penggoda oleh syaithan itu, hanyasanya lebih suci lagi berpahala." Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Nabi  mengamalkannya sebelum menyampaikan pada para sahabat, yakni beliau  mendatangi Ibunda kita Zainab bint Jahsy yang sedang menyamak kulit, lalu seusainya bersabda pada para sahabat dalam keadaan rambut masih basah bekas mandi jinabah.

Inilah kesetiaan sejati. Bukan tak pernah tergoda. Melainkan tahu dan mau bahwa penyelesaian segala godaan itu adalah yang halal dan mulia di sisi Allah.
Apa hubungan pelajaran ini dengan es buah? Nah ini, ternyata bahkan ia dapat diambil 'ibrahnya bagi para jomblo yang biasanya diejek, "Lha kalau jomblo kalau tergoda disuruh pulang terus bertemu siapa?" Mari perhatikan saat kita berpuasa. Siang-siang, bukankah es buah itu tampak begitu jelita? Panas-panas, bukankah es campur itu terlihat sangat menggoda? Haus-haus, bukankah es cendol itu tampil amat menggairahkan?
Tapi bersabarlah sejenak. Nanti begitu Maghrib tiba, sungguh segelas air putih pun telah dapat mendamaikan raga dan jiwa. Serius. Segelas air putih saja. Masyaallah. Jadi meski es buah, es campur, dan es cendol yang penampilannya aduhai itu amat menggoda mata, Allah Maha Kuasa untuk mengaruniakan sakinah pada kita nantinya dengan segelas air putih bersahaja. Kecantikan es buah, kemolekan es campur, dan keseksian es cendol mudah dikalahkan oleh keshalihahan air putih. Kenali prioritasmu menemukan jodoh wahai jomblo.\

Nah para Bapak, saya tidak mengatakan bahwa yang di rumah kita itu air putih lho ya. Mungkin justru Jus Alpukat. Atau bahkan Susu Telur Madu Jahe. Masyaallah. Bergizi tinggi. Berkah. Tapi satu saat saya sampaikan ini di sebuah majelis, seorang Bapak menyeletuk, "Tapi berlemak ya Tadz." Waduh. Ampun Ibu-ibu. 👔:
Share:

JEJAK KEISLAMAN IBU RA KARTINI YANG BELUM BANYAK DIKETAHUI

Dikutip dari laman facebook kata-kata hikmah dengan judul postingan  
*JEJAK KEISLAMAN KARTINI*
*YANG BELUM BANYAK DIKETAHUI*
Tertanggal 21 April 2017 bertepatan dengan hari kartini

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis;
"Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?"
"Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca".
"Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya".
"Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?"
RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.
"Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya".
"Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kitab ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya".
Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, menceritakan pertemuan RA. Kartini dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang — lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat dan menuliskan kisah tsb sbb:
Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.
Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.
Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.
Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.
“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.
Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.
“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Alquran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.
Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”
Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.
Setelah pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak 13 juz terjemahan diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia.
Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat berikut, karena Kyai Sholeh meninggal dunia.
Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon.
"Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban".
"Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan".
Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis; "Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disun dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah SWT."
RA Kartini pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Al-Qur’an. Ketika mengikuti pengajian Kiai Soleh Darat di pendopo Kabupaten Demak yang bupatinya adalah pamannya sendiri, RA Kartini sangat tertarik dengan Kiai Soleh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah.
RA Kartini lantas meminta romo gurunya itu agar Al-Qur'an diterjemahkan. Karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya. Pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan Al-Qur’an. Dan para ulama waktu juga mengharamkannya. Mbah Shaleh Darat menentang larangan ini. Karena permintaan Kartini itu, dan panggilan untuk berdakwah, beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf Arab pegon sehingga tak dicurigai penjajah.
Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an itu diberi nama Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an. Tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Jilid pertama yang terdiri dari 13 juz. Mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Ibrahim.
Kitab itu dihadiahkannya kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya.
Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan: “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”
Melalui kitab itu pula Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya. Yaitu Surat Al-Baqarah ayat 257 yang mencantumkan, bahwa Allah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minadh-Dhulumaati ilan Nuur).
Kartini terkesan dengan kalimat Minadh-Dhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya karena ia merasakan sendiri proses perubahan dirinya.
Kisah ini sahih, dinukil dari Prof KH Musa al-Mahfudz Yogyakarta, dari Kiai Muhammad Demak, menantu sekaligus staf ahli Kiai Soleh Darat.
Dalam surat-suratnya kepada sahabat Belanda-nya, JH Abendanon, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat “Dari Gelap Kepada Cahaya” ini. Sayangnya, istilah “Dari Gelap Kepada Cahaya” yang dalam Bahasa Belanda “Door Duisternis Tot Licht” menjadi kehilangan maknanya setelah diterjemahkan Armijn Pane dengan kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Mr. Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini menjadikan kata-kata tersebut sebagai judul dari kumpulan surat Kartini. Tentu saja ia tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut sebenarnya dipetik dari Al-Qur’an. Kata “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur“ dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya: (Membawa manusia) Dari kegelapan kepada cahaya (Islam)
"Selamat Hari Kartini"
Semoga Allah memberikan ampunan dan rahmatNya kpd ibu kita Kartini... Aamiin ya Robbal 'Aalamiin..


Share:

Recent Posts

Sponsorship